Featured Posts

Cash-Out Refinance For many, their homes are just not dwellings that protect them against rain, sun, and wind. But they are piggy banks, which can be used to raise some urgent money, even if the home still lays collateral...

Read more

Palm’s latest model, new handheld in a long time. Palm’s latest model, the TX, is its most ambitious new handheld in a long time. This isn’t because it’s full of cutting-edge features. It certainly is not. However, very few mid-range models have...

Read more

An image in a post Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in quam. Etiam...

Read more

Home Purchase Loan We all dream to own a home, at some point in our lives. In fact, this is a major driving force or one of the goals we have ahead while working day and night and saving a good share of the earnings every...

Read more

Minggu, 10 Oktober 2010

Hati-hati, Makna Negatif Angka 10-10-10




BEIJING, KOMPAS.com — Bunga, pakaian pengantin, dan ranjang milik ribuan pasangan calon pengantin China akan menandai 10 Oktober sebagai jam baik, tanggal baik, bulan baik, dan tahun baik bagi pernikahan.
Akibatnya, pada Minggu (10/10/2010), kantor pencatat perkawinan akan membuka pendaftaran sejak dini hari di seantero negeri. Tanggal 10 Oktober 2010 (10/10/10) dalam bahasa China disebut shi quan shi mei atau sempurna dalam semua sisi.
Karena shi juga bermakna 10, maka umumnya pasangan calon pengantin itu mengharapkan banyak keuntungan menyertai kehidupan mereka di masa datang.
Kantor-kantor catatan sipil di Beijing, Shenzhen, Hangzhou, dan kota-kota besar lainnya akan memulai kerja lebih awal dari hari biasanya untuk menerima pendaftaran para pasangan calon pengantin, kendati tanggal tersebut merupakan hari pertama liburan setelah berakhirnya sepekan peringatan Hari Jadi Nasional.
Lebih dari 1.200 pasangan telah mengambil nomor antrean pendaftaran di kantor Biro Urusan Sipil di Distrik Haidian, yang merupakan hari paling sibuk di kantor itu sepanjang tahun ini.
Gao Jie (27), staf satu perusahaan konsultan di Beijing, bersama teman wanitanya, telah memesan waktu untuk pendaftaran sejak awal September.
"Memesan waktu pendaftaran lebih awal sangat penting karena ratusan pasangan calon pengantin pada hari Minggu tersebut akan berjubel untuk mendaftar. Tidak seorang pun akan dapat mendaftarkan perkawinan pada hari itu tanpa memesan waktu terlebih dahulu," kata Gao.
Gao, yang berasal dari provinsi Shaanxin, mengatakan, mereka memilih hari istimewa tersebut karena ia dan teman gadisnya telah berpacaran sejak 10 tahun lalu saat mereka sekelas di sekolah menengah atas.
"Kami harus hati-hati. Sebabnya, tanggal 10 Oktober 2010 merupakan hari istimewa bagi kami. Dipastikan banyak yang menikah, saya takut jika tidak sempat dicatat pada waktunya," kata Gao.
Selain sisi positif, makna angka 10-10-10 juga memiliki sisi negatif, utamanya berhubungan dengan air.
Saat ini China memang sedang dilanda bencana banjir bandang dan tanah longsor akibat hujan badai. Bagi masyarakat yang percaya, ada hubungannya dengan sisi negatif angka 10-10-10.
Namun, banyak masyarakat China untuk sementara melupakan bencana dan lebih berkonsentrasi mengurus pernikahan.
Di kabupaten Tianjing, yang berpenduduk sekitar 12 juta jiwa, tercatat lebih dari 5.000 pasangan calon pengantin akan mendaftarkan perkawinan pada Minggu.
Cui Weixi, manajer I Love Weddings—perusahaan pengelola acara pernikahan—yang bermarkas di Tianjin terpaksa harus lembur. "Kami mengerahkan 40 karyawan bekerja lembur dalam beberapa hari terakhir untuk menyelenggarakan pernikahan 20 pasangan pada Minggu (10/10/2010)," katanya.

Sementara itu, tanggal-tanggal istimewa tahun sebelumnya seperti terjadi pada 9/9/2009 dan 8/8/2008. Angka 8 dimaknai kekayaan dan angka 9 dimaknai keabadian.

Pada 9 September tahun lalu, tercatat 10.132 pasangan melangsungkan pernikahan di Beijing, pada 8 Agustus 2008, menurut Biro Urusan Sipil Beijing, tercatat 6.732 pasangan menikah.

KISAH VER TERSANGKA TRAFFICKING Germo Cilik Pimpin PSK Cilik

KOMPAS.com - Siapa sangka, Ver (17) germo cilik sekaligus pekerja seks komersial (PSK) yang punya belasan anak buah, ternyata siswi yang pintar. Semasa SD dan SMP sebelum dikeluarkan dari sekolahnya, dia selalu masuk peringkat 10 besar di kelasnya.

Namun kecerdasan itu tak mendapat perhatian semestinya. Orangtuanya yang tinggal di Lamongan tergolong miskin. Saat pindah ke Surabaya, Ver hidup dalam lingkungan yang membuatnya nakal. Sampai akhirnya ia masuk dalam dunia hitam dan ditangkap anggota Satuan Pidana Umum (Sat Pidum) Reskrim Polrestabes Surabaya, Kamis (7/10) tengah malam.

Kini masalah Ver yang terakhir indekos di Jl Pakis Sidokumpul I itu bertumpuk-tumpuk. Selain menjadi tersangka dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara karena menjual belasan anak di bawah umur seusia SMP dan SMA sebagai PSK, Ver juga tengah hamil tanpa suami.

Kepada Surya di tahanan Mapolrestabes Surabaya, Sabtu (9/10), Ver yang bertubuh kurus itu mengisahkan, sejak kecil kondisi keluarganya sudah tidak harmonis. Anak bungsu dari dua bersaudara itu menceritakan sewaktu kelas III SD di Lamongan, ayah dan ibunya kerap bertengkar. Suatu ketika usai pertengkaran hebat, ayahnya meninggalkan rumah dan tak diketahui kemana perginya.

Bahkan, Ver yang gaya bicaranya ceplas-ceplos ini mengaku tidak begitu ingat bagaimana wajah ayahnya. “Saya tidak ingat lagi. Ibu cuma bilang kalau ayahnya sudah pergi dan tidak kembali,” kata Ver lirih.

Masalah keluarga itu sedikit mengganggu sekolahnya. Ver yang sejak kelas I sampai kelas III SD selalu ranking satu, dengan munculnya persoalan keuarga itu, maka saat kelas IV merosot ke ranking dua. “Mulai kelas IV sampai kelas VI, kadang saya menjadi juara kelas atau nomor 2 atau tiga. Nggak pastilah, karena kepikiran kondisi keluarga,” ucapnya.

Lalu terjadilah peristiwa saat dia kelas IV SD. Saat itu, ibunya yang terpaksa mencari nafkah dengan berjualan kosmetik keliling kampung, tiba-tiba meninggal dunia.

Ver shock mendapati kenyataan ayah dan ibunya sudah tidak di sampingnya lagi. Saudaranya yang ada di Lamongan kemudian merawatnya hingga lulus SD.

Hidup tanpa didampingi orangtua terkadang membuat Ver iri dan nelangsa. Ia kerap menyaksikan anak lain sepulang sekolah dijemput orangtuanya, ada yang naik sepeda motor atau sepeda onthel. “Saya benar-benar sedih kalau melihat itu,” ungkapnya sedih.

Setelah lulus SD, bibinya yang merawat Ver di Lamongan terbentur masalah ekonomi, sehingga tidak bisa menyekolahkan Ver ke jenjang SMP. Maka anak cerdas itu kemudian dititipkan ke tantenya di Mojokerto. “Saya lalu dimasukkan ke panti asuhan,” kata Ver.

Di panti asuhan itu, Ver hanya bertahan sekitar sebulan. Ia dikeluarkan karena tidak mau mengaji dan sekolah atau mengikuti kegiatan lainnya. “Di sana (panti) saya nggak kerasan,” katanya.

Mengetahui hal tersebut, tantenya kemudian menyekolahkan Ver ke SMP di Mojokerto. Namun tidak lama tantenya merasa tak sanggup menyekolahkan Ver karena masalah ekonomi.

Ver kemudian diserahkan ke saudaranya yang lain di Nginden, Surabaya. Di Surabaya, Ver masuk di salah satu SMPN favorit di Surabaya. Di SMPN ternama itu, Ver cukup disegani karena memiliki otak encer. Mulai kelas I sampai pertengahan kelas II, Ver selalu masuk peringkat 10 besar di kelasnya.

Mulai Kenal Bolos

Namun mulai kelas II, Ver sudah mulai kenal bolos sekolah. Ia merasakan kadang agak terkekang.

Saking seringnya bolos, Ver yang kini berstatus tersangka kasus trafficking ini, lalu dipanggil ke kantor sekolah untuk diperingatkan. Meski begitu, perempuan berambut sebahu itu tidak kapok. Ia malah kerap bolos sekolah, meski hanya untuk jalan-jalan ke Kebun Binatang Surabaya atau cangkruk di Taman Bungkul. “Terakhir saya dikeluarkan dari sekolah sekitar tahun 2007,” paparnya.

Tahu Ver dikeluarkan dari sekolah, tantenya marah. Ia sempat dikunci sendirian di rumah supaya kapok dan mau sekolah lagi. Setelah ditanya tantenya apakah masih ingin melanjutkan sekolah, Ver malah tegas mengatakan tak mau sekolah lagi. Tak pelak, semua pakaian Ver dibuang ke depan rumah. Ver yang masih berusia sekitar 14 tahun itu pun minggat dari rumah tantenya.

Ver mengaku tak mau sekolah lagi, karena tiap hari oleh tantenya hanya diberi uang saku Rp 1.500. Menurutnya itu hanya cukup untuk naik bemo, sedangkan pulangnya ke Nginden harus jalan kaki

Minggu, 03 Oktober 2010

Angkasa Yudha 2010 Sukhoi Akan Diuji di Sangatta

JAKARTA, KOMPAS.com - Enam unit pesawat tempur Sukhoi yang dimiliki Indonesia akan diujikan kemampuanya pada Latihan Puncak Angkasa Yudha 2010 yang akan digelar pada 28 Oktober di Sangatta, Kalimantan Timur. Latihan puncak TNI AU dimana seluruh kekuatan akan digelar.
Sukhoi sudah dipersenjatai, ketika latihan puncak Angkasa Yudha, Sukhoi akan mulai latihan menembak.
-- Marsekal TNI Imam Sufaat.
Hal itu dikemukakan oleh Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Imam Sufaat, usai menghadiri serah terima jabatan Penglima TNI, di Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Sabtu (2/10/2010).
"Sukhoi sudah dipersenjatai, ketika latihan puncak Angkasa Yudha, Sukhoi akan mulai latihan menembak, air to ground," katanya dengan bangga.
Lebih lanjut, KSAU menjelaskan bahwa semua kekuatan TNI Angkatan Udara akan terlibat, selain Sukhoi juga F16, Hawk 109/209, F-5E

Menjaga Batik agar Tak Jadi Tren sesaat

KOMPAS.com — Pernahkah Anda membuka almari pakaian dan menghitung jumlah batik di situ? atau sekadar duduk di warung kopi dan menghitung jumlah orang berpakaian batik di depan Anda?

Semenjak pengakuan terhadap batik sebagai budaya tak benda warisan manusia Indonesia oleh UNESCO satu tahun lalu, diikuti penetapan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, antusiasme masyarakat Indonesia untuk mengenakan batik melonjak.

Jika 10 tahun lalu mungkin hanya orangtua yang mengenakan batik—itu pun sebagai kain panjang atau kemeja resmi—maka sekarang remaja dan kalangan muda usia produktif pun makin nyaman beraktivitas berbusanakan batik.

Batik tak lagi muncul dalam acara-acara resmi yang membosankan, tetapi juga dalam gaya-gaya kasual nan chic dan segar.

Batik berevolusi dalam segala bentuk busana seiring dengan imajinasi dan kreativitas perancang busana ternama Indonesia.

Selain deretan rancangan adibusana yang mewah, batik juga tampil dalam berbagai desain santai yang jauh lebih sederhana dengan harga jauh lebih murah.

Dari Presiden, kalangan profesional, artis terkenal, anak-anak sekolah, hingga tukang becak di sudut jalan mengenakannya karena batik tak mengenal status sosial.

Namun, euforia itu tampaknya tak cukup bagi seorang Edward Hutabarat.  Perancang busana nasional ternama ini ingin mengajak masyarakat Indonesia tidak hanya mengenal lembar demi lembar batik secara fisik, tetapi juga mengetahui cerita di balik pembuatan batik.

"Seseorang boleh jadi memiliki puluhan koleksi busana batik dan mampu menyebutkan perbedaan setiap coraknya dengan fasih. Namun, tidak setiap orang mengetahui 'backstage' (kisah di balik) setiap jenis batik," kata Edward dalam peluncuran kampanye Cintaku Pada Batik Takkan Pernah Pudar, Jumat di Museum Nasional, Jakarta.

Tampil dalam balutan kemeja batik lengan pendek bercorak biru dengan dasar putih, pria kelahiran Tarutung, Sumut, itu mengungkapkan kekhawatirannya apabila batik hanya menjadi tren sesaat yang hilang begitu bergeraknya sang waktu.

Oleh karena itu, ia menegaskan perlunya membangun kesadaran kepada masyarakat Indonesia agar batik tidak hanya menjadi tren sesaat. "Agar identitas dan kecintaan batik di kehidupan modern ini tidak memudar," katanya.

Masyarakat Indonesia, katanya, mengemban tanggung jawab besar untuk melestarikan batik sebagai warisan budaya bangsa.

Untuk itu, dia menganjurkan setiap orang mengetahui "backstage" setiap jenis batik di Indonesia, minimal batik yang menjadi koleksinya.

"Jangan hanya batiknya, tetapi misal kuliner dari daerah itu, bagaimana kehidupan masyarakatnya, atau kesenian yang lain," kata pria yang mengaku telah melakukan perjalanan ke Cirebon, Pekalongan, Yogya, Solo, dan sejumlah kota penghasil batik lainnya.

Dengan bangga dia menunjukkan sejumlah koleksi foto yang menjadi bukti bagian dari perjalanannya menemukan akar dari setiap lembar kain batik yang menjadi ciri khas daerah-daerah yang membuatnya.

"Batik tidak hanya sekadar wujud fisik busana khas Indonesia, tetapi terdapat proses panjang, cita rasa, dan estetika yang dibalut dengan perasaan dalam pembuatannya," katanya.

Edward yang sore itu menampilkan beberapa koleksi terbarunya menegaskan bahwa setiap goresan canting dalam proses pembuatan batik melibatkan emosi dan memesankan banyak aspek kehidupan lingkungan sekitarnya.

Tradisi Indonesia

Kapan tepatnya orang Indonesia mengenal batik dan muasal kata batik, hal itu menjadi perdebatan hingga sekarang sekalipun sejumlah pihak menyebutkan bahwa batik telah menjadi bagian kehidupan rakyat Indonesia sejak era Majapahit.

Namun, sebuah foto keluarga RA Kartini yang berusia lebih dari 100 tahun lalu menunjukkan bahwa lebih dari 100 tahun lalu masyarakat Indonesia, Jawa khususnya, telah sangat akrab dengan batik.

Di Indonesia, tradisi membatik diturunkan dari generasi ke generasi, dari ibu kepada anaknya, dari nenek kepada cucunya.

Oleh karena itu, pada zaman dahulu satu asal motif dapat dikenali dari keluarga tertentu dan menunjukkan status seseorang.

Menurut Edward, setidaknya perlu 20-25 tahun sampai seseorang bisa diakui sebagai seniman batik ulung.

"Butuh 20-25 tahun untuk dapat menggambar semua jenis motif batik karena batik lebih dari sekadar menggambar di atas kain. Ini adalah pekerjaan yang dilakukan dengan hati," katanya.

Sejumlah kota di Pulau Jawa hingga Madura dikenal memiliki corak kain batik yang sangat khas.

Batik-batik dari pesisir—Pekalongan, Cirebon, dan Tuban—memiliki corak dan warna yang lebih beragam karena interaksi warga setempat dengan para pendatang.

Pengaruh asing itu memperkaya kreasi batik, sampai-sampai di era penjajahan Eropa muncul motif bunga tulip dan kereta kuda dalam batik.

Sementara itu, batik-batik dari Yogya dan Solo cenderung mengambil warna tanah dengan motif-motif rumit dan kecil.

Edward lalu berbagi tips merawat kain atau busana batik agar warnanya tetap cemerlang, tidak pudar, dan tahan lama.

Ia menuturkan, untuk mencuci selembar kain batik koleksinya yang berusia sekitar 50-an tahun dibutuhkan perlakuan-perlakuan khusus.

"Saya menggunakan air panas dan menyiapkan empat ember air untuk mencuci satu lembar kain batik kuno," katanya, didampingi Senior Manager Product Development PT KAO Indonesia Seiji Kikuta.

Pria kelahiran 31 Agustus itu mengatakan satu ember berisi air panas, sedangkan tiga ember yang lain berisi air dingin.

"Sabun pencuci dilarutkan dalam air panas, lalu kain direndam. Kemudian, kain itu dipindahkan ke tiga ember yang lain bergantian," katanya.

Kemudian, kata dia, kain batik ditumpuk dengan handuk kering dan dijemur dengan menggunakan peralon (pipa plastik) atau bambu.

Adapun Kikuta yang sore itu mengenakan batik lengan panjang bewarna merah mengaku bahwa KAO memahami kesulitan dan kekhawatiran konsumen Indonesia saat mencuci batik kesayangannya.

Hal itulah yang menginspirasi perusahaan global yang telah lebih dari 25 tahun berada di Indonesia itu untuk menawarkan inovasi baru: pencucian modern serta praktis dan lembut untuk menjaga warna batik tidak pudar.

"Kami ingin memberikan sebuah inovasi khusus untuk masyarakat Indonesia," katanya dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Peluncuran kampanye Cinta Pada Batik Takkan Pernah Pudar itu ditutup peragaan busana 17 karya Edward yang keseluruhannya merupakan busana wanita.

Perancang yang telah menggeluti dunia busana selama 30 tahun itu kali ini menggunakan batik bercorak mega mendung dan pagi-sore dalam berbagai busana kasual, mulai dari jas pendek, rok bergaya babydoll, jaket panjang, gaun berpotongan lebar di bagian bawah, dan gaun-gaun bermodel kemben.

Melalui peragaan ini, Edward agaknya ingin memberi teladan tentang bagaimana kita seharusnya memberlakukan batik agar budaya bangsa yang telah diakui di kancah internasional ini tidak menjadi tren sesaat