Featured Posts

Cash-Out Refinance For many, their homes are just not dwellings that protect them against rain, sun, and wind. But they are piggy banks, which can be used to raise some urgent money, even if the home still lays collateral...

Read more

Palm’s latest model, new handheld in a long time. Palm’s latest model, the TX, is its most ambitious new handheld in a long time. This isn’t because it’s full of cutting-edge features. It certainly is not. However, very few mid-range models have...

Read more

An image in a post Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in quam. Etiam...

Read more

Home Purchase Loan We all dream to own a home, at some point in our lives. In fact, this is a major driving force or one of the goals we have ahead while working day and night and saving a good share of the earnings every...

Read more

Minggu, 10 Oktober 2010

KISAH VER TERSANGKA TRAFFICKING Germo Cilik Pimpin PSK Cilik

KOMPAS.com - Siapa sangka, Ver (17) germo cilik sekaligus pekerja seks komersial (PSK) yang punya belasan anak buah, ternyata siswi yang pintar. Semasa SD dan SMP sebelum dikeluarkan dari sekolahnya, dia selalu masuk peringkat 10 besar di kelasnya.

Namun kecerdasan itu tak mendapat perhatian semestinya. Orangtuanya yang tinggal di Lamongan tergolong miskin. Saat pindah ke Surabaya, Ver hidup dalam lingkungan yang membuatnya nakal. Sampai akhirnya ia masuk dalam dunia hitam dan ditangkap anggota Satuan Pidana Umum (Sat Pidum) Reskrim Polrestabes Surabaya, Kamis (7/10) tengah malam.

Kini masalah Ver yang terakhir indekos di Jl Pakis Sidokumpul I itu bertumpuk-tumpuk. Selain menjadi tersangka dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara karena menjual belasan anak di bawah umur seusia SMP dan SMA sebagai PSK, Ver juga tengah hamil tanpa suami.

Kepada Surya di tahanan Mapolrestabes Surabaya, Sabtu (9/10), Ver yang bertubuh kurus itu mengisahkan, sejak kecil kondisi keluarganya sudah tidak harmonis. Anak bungsu dari dua bersaudara itu menceritakan sewaktu kelas III SD di Lamongan, ayah dan ibunya kerap bertengkar. Suatu ketika usai pertengkaran hebat, ayahnya meninggalkan rumah dan tak diketahui kemana perginya.

Bahkan, Ver yang gaya bicaranya ceplas-ceplos ini mengaku tidak begitu ingat bagaimana wajah ayahnya. “Saya tidak ingat lagi. Ibu cuma bilang kalau ayahnya sudah pergi dan tidak kembali,” kata Ver lirih.

Masalah keluarga itu sedikit mengganggu sekolahnya. Ver yang sejak kelas I sampai kelas III SD selalu ranking satu, dengan munculnya persoalan keuarga itu, maka saat kelas IV merosot ke ranking dua. “Mulai kelas IV sampai kelas VI, kadang saya menjadi juara kelas atau nomor 2 atau tiga. Nggak pastilah, karena kepikiran kondisi keluarga,” ucapnya.

Lalu terjadilah peristiwa saat dia kelas IV SD. Saat itu, ibunya yang terpaksa mencari nafkah dengan berjualan kosmetik keliling kampung, tiba-tiba meninggal dunia.

Ver shock mendapati kenyataan ayah dan ibunya sudah tidak di sampingnya lagi. Saudaranya yang ada di Lamongan kemudian merawatnya hingga lulus SD.

Hidup tanpa didampingi orangtua terkadang membuat Ver iri dan nelangsa. Ia kerap menyaksikan anak lain sepulang sekolah dijemput orangtuanya, ada yang naik sepeda motor atau sepeda onthel. “Saya benar-benar sedih kalau melihat itu,” ungkapnya sedih.

Setelah lulus SD, bibinya yang merawat Ver di Lamongan terbentur masalah ekonomi, sehingga tidak bisa menyekolahkan Ver ke jenjang SMP. Maka anak cerdas itu kemudian dititipkan ke tantenya di Mojokerto. “Saya lalu dimasukkan ke panti asuhan,” kata Ver.

Di panti asuhan itu, Ver hanya bertahan sekitar sebulan. Ia dikeluarkan karena tidak mau mengaji dan sekolah atau mengikuti kegiatan lainnya. “Di sana (panti) saya nggak kerasan,” katanya.

Mengetahui hal tersebut, tantenya kemudian menyekolahkan Ver ke SMP di Mojokerto. Namun tidak lama tantenya merasa tak sanggup menyekolahkan Ver karena masalah ekonomi.

Ver kemudian diserahkan ke saudaranya yang lain di Nginden, Surabaya. Di Surabaya, Ver masuk di salah satu SMPN favorit di Surabaya. Di SMPN ternama itu, Ver cukup disegani karena memiliki otak encer. Mulai kelas I sampai pertengahan kelas II, Ver selalu masuk peringkat 10 besar di kelasnya.

Mulai Kenal Bolos

Namun mulai kelas II, Ver sudah mulai kenal bolos sekolah. Ia merasakan kadang agak terkekang.

Saking seringnya bolos, Ver yang kini berstatus tersangka kasus trafficking ini, lalu dipanggil ke kantor sekolah untuk diperingatkan. Meski begitu, perempuan berambut sebahu itu tidak kapok. Ia malah kerap bolos sekolah, meski hanya untuk jalan-jalan ke Kebun Binatang Surabaya atau cangkruk di Taman Bungkul. “Terakhir saya dikeluarkan dari sekolah sekitar tahun 2007,” paparnya.

Tahu Ver dikeluarkan dari sekolah, tantenya marah. Ia sempat dikunci sendirian di rumah supaya kapok dan mau sekolah lagi. Setelah ditanya tantenya apakah masih ingin melanjutkan sekolah, Ver malah tegas mengatakan tak mau sekolah lagi. Tak pelak, semua pakaian Ver dibuang ke depan rumah. Ver yang masih berusia sekitar 14 tahun itu pun minggat dari rumah tantenya.

Ver mengaku tak mau sekolah lagi, karena tiap hari oleh tantenya hanya diberi uang saku Rp 1.500. Menurutnya itu hanya cukup untuk naik bemo, sedangkan pulangnya ke Nginden harus jalan kaki

0 komentar:

Posting Komentar