Featured Posts

Cash-Out Refinance For many, their homes are just not dwellings that protect them against rain, sun, and wind. But they are piggy banks, which can be used to raise some urgent money, even if the home still lays collateral...

Read more

Palm’s latest model, new handheld in a long time. Palm’s latest model, the TX, is its most ambitious new handheld in a long time. This isn’t because it’s full of cutting-edge features. It certainly is not. However, very few mid-range models have...

Read more

An image in a post Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in quam. Etiam...

Read more

Home Purchase Loan We all dream to own a home, at some point in our lives. In fact, this is a major driving force or one of the goals we have ahead while working day and night and saving a good share of the earnings every...

Read more

Selasa, 28 September 2010

Musim Hujan Saluran Air Tak Mampu Imbangi Hujan

JAKARTA, KOMPAS.com — Hujan deras dengan durasi pendek membuat saluran drainase di Jakarta sulit menyalurkan air. Ditambah dengan hilangnya daya resap tanah, kondisi tersebut mempermudah terjadinya genangan di jalan-jalan Ibu Kota.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DKI) Jakarta Ery Basworo mengatakan, perubahan iklim secara ekstrem akhir-akhir ini telah mengubah perilaku hujan. Hujan dengan intensitas tinggi, yang biasanya turun dalam durasi lebih dari satu hari, kini mengguyur hanya dalam 3 jam.
Akibatnya, kata Ery, saluran drainase di jalan-jalan arteri Ibu Kota tidak dapat mengalirkan semua air hujan tersebut. Padatnya jumlah bangunan membuat daya resap tanah terhadap air hujan mengecil. Kondisi ini dipersulit dengan tersumbatnya saluran-saluran air oleh sampah ataupun sedimentasi tanah. "Sekarang dengan climate change, genangan airnya naik. Genangan banyak karena resapan air kurang, baik sumur resapan maupun biopori," kata Ery.
Karena penanganan sungai berada dalam kewenangan Kementerian Pekerjaan Umum, Ery menegaskan, tugas DPU DKI adalah melakukan perbaikan saluran-saluran penghubung ke sungai-sungai tersebut. Oleh karena itu, dalam jangka pendek, DPU DKI berupaya mengatasi hal ini dengan memperbesar penampang saluran pembuangan ataupun membuat saluran-saluran baru.
Di Jalan Sabang, Jakarta Pusat, misalnya, selalu terjadi genangan pada saat hujan deras akibat tersumbatnya saluran air oleh sampah yang dibuang pedagang kreatif lapangan (PKL). Untuk memaksimalkan fungsi saluran ini, tidak ada cara lain selain membersihkan dan memperbesar saluran.
Meski demikian, di beberapa tempat, perbesaran saluran air ini tidak serta-merta membuat air terbuang dengan mudah. Tingginya muka air laut ataupun sungai dapat mengganggu aliran air, terutama di daerah-daerah rendah. Di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, misalnya, perbaikan saluran tidak dapat optimal jika air di Kali Krukut meluap. Air hujan tidak dapat masuk ke sungai dan justru berbalik serta menimbulkan genangan. Hal serupa terjadi di Jalan Lodan depan Hotel Alexis dan Kali Baru. Kedua lokasi di Jakarta Utara ini tergenang akibat pasang air laut.

Dilantik Presiden Agus Suhartono Resmi Jadi Panglima TNI

JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melantik Laksamana TNI Agus Suhartono sebagai Panglima TNI yang baru, Selasa (28/9/2010) sore di Istana Negara. Agus menggantikan Panglima TNI sebelumnya, Jenderal TNI Djoko Santoso.
Agus dilantik melalui Keputusan Presiden Nomor 51 TNI Tahun 2010 yang memberhentikan Djoko sebagai Panglima TNI. Keputusan ini mulai berlaku sejak pelantikan.
Selain itu, berdasarkan Keppres Nomor 52 TNI Tahun 2010, Presiden juga memberhentikan Agus sebagai Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) dan mengangkat Laksamana Madya TNI Suparno sebagai KSAL yang baru. Seusai Keppres dibacakan, keduanya mengucapkan sumpah jabatan yang sebelumnya didiktekan oleh Presiden SBY.
Berikut ini sumpah jabatan yang diikrarkan keduanya secara bersamaan:
Saya berjanji tidak memberi atau menyanggupi atau memberi kepada siapa pun juga.
Bahwa saya tidak akan menerima suatu hadiah atau suatu pemberian berupa apa saja dari siapa pun juga yang saya tahu atau patut dapat mengira bahwa ia mempunyai hal yang bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan saya.
Bahwa saya akan tetap setia kepada UUD dan memelihara segala peraturan yang berlaku bagi negara Republik Indonesia.
Bahwa saya akan senantiasa menjunjung tinggi sumpah prajurit

Sabtu, 18 September 2010

Pensiun, Hendarman Urus Cucu

JAKARTA, KOMPAS.com — Tak lama lagi, Jaksa Agung Hendarman Supandji segera mengakhiri kariernya. Lantas, apa kegiatan yang akan dilakukannya selepas pensiun nanti? "Oh banyak, mengurus cucu, pelihara burung," ujar Hendarman berseri-seri kepada para wartawan sesaat sebelum mengikuti sidang kabinet paripurna di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (2/9/2010).


Hendarman mengaku telah melakukan persiapan-persiapan sebelum hengkang dari Korps Adhyaksa. "Pokoknya, buku-buku sudah saya angkut-angkuti," katanya lagi.
Soal penerusnya, Hendarman mengaku belum dimintai masukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Apakah calon tersebut dari dalam atau luar Kejaksaan?
"Ya, bisa dari dalam atau dari luar. Sekarang tinggal Bapak Presiden minta pengganti saya

Diduga SBY Pilih Busyro atau Bambang W

Sabtu, 18 September 2010 | 12:29 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan Gubernur Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Farouk Muhammad, melihat adanya kecenderungan Presiden SBY akan memilih pengganti Hendarman Supandji sebagai jaksa agung berasal dari luar Kejaksaan Agung. Pasalnya, orang luar akan dinilai lebih membawa amanah dalam bertugas ketimbang dari internal.

"SBY cenderung dari nonkarier," ujarnya saat acara diskusi Polemik di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (18/9/2010).

Meski begitu, menurut Farouk, bukan berarti calon dari eksternal tersebut tanpa kelemahan. Ia mengatakan, apabila benar SBY memilih jaksa agung dari luar, dikhawatirkan justru akan tertarik oleh pusaran-pusaran yang berada di dalam korps Adhyaksa tersebut.

"Akan tarik-menarik, aspirasi di internal, kepentingan mempertahankan korps dan amanah lebih banyak kepentingan ke dalam, takutnya orang itu akan terbawa pusaran tersebut," jelasnya.

Calon jaksa agung dari lingkungan luar yang diprediksi akan dipilih SBY, lanjut Farouk, kemungkinannya antara dua calon Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Busyro Muqoddas dan Bambang Widjojanto.

"SBY akan memilih dari luar, Busyro atau Bambang Widjojanto, itu salah satunya," tandasnya.

Senin, 06 September 2010

GEDUNG BARU DPR Arsitekturnya Tidak Cerminkan Indonesia

JAKARTA, KOMPAS.com — Arsitektur gedung baru DPR dinilai tidak mencerminkan budaya Indonesia. Padahal, gedung yang menelan biaya Rp 1,6 triliun itu adalah bangunan penting yang selayaknya bisa menjadilandmark "rumah rakyat" Indonesia.
"Rancangan gedung baru DPR itu bagus, modern, tapi sayang tidak mencerminkan budaya Indonesia," ungkap Ketua Ikatan Arsitek Indonesia Endi Subijono dalam perbincangan dengan Kompas.com, Minggu (6/9/2010).
Ia berpendapat, di luar perdebatan soal biaya yang menuai kontroversi, gedung parlemen seyogianya memiliki sebuah filosofi yang mencerminkan nilai lokalitas Indonesia. DPR sebagai salah satu fondasi sistem demokrasi Indonesia selayaknya memiliki gedung yang bisa menjadilandmark keindonesiaan. "Rancangan gedung itu terlalu netral, modern, tapi kehilangan lokalitasnya," ujarnya.
Menurut dia, kekayaan desain arsitektur lokal sangat mungkin diterapkan dalam rancang bangun sebuah gedung modern. Wisma Dharmala di Jalan Sudirman adalah satu contoh lokalitas yang terpresentasikan dalam wujud modern.
Gedung yang dirancang arsitek Amerika Paul Rudolph pada tahun 1986 menggunakan idiom atap sebagai ciri keindonesiaan yang mencolok. Bentuk atap yang memberi kesan rumah bertumpuk itu membuat Wisma Dharmala menjadi sangat dekoratif.
Jauh sebelum itu, arsitek Indonesia kenamaan, Suyudi, sudah menerapkan idiom atap pada rancangan gedung Kedutaan Besar Perancis di Jalan Thamrin yang dibangun tahun 1974 . Suyudi menggunakan pola atap sebagai cincin yang tidak terputus.
Endi yakin, jika saja rancangan gedung baru disayembarakan, pasti ada rancangan-rancangan arsitek Indonesia yang mencerminkan keindonesiaan. IAI pernah menggagas konsep sayembara pembangunan gedung baru DPR, tapi gagasan itu tampaknya diabaikan parlemen

Jumat, 03 September 2010

Inilah Cara Melumpuhkan Malaysia Tanpa Perang

JAKARTA – Tindakan Malaysia yang telah berbuat semena-mena kepada Indonesia dirasa sudah melewati batas kesabaran. Tindakan tegas pun sudah sepantasnya dilakukan pemerintah dan rakyat Indonesia.

Bagaimana tidak, Malaysia selama ini kerap bertindak di luar batas. Perlakuan kasar kepada TKI, mengklaim budaya dan sederet karya Indonesia, sering memasuki wilayah perbatasan, serta memanggil warga Indonesia dengan sebutan “Indon” menjadi contoh jika Malaysia selama ini tidak menghargai kedaulatan Indonesia.


Namun, perang ternyata bukan satu-satunya cara untuk memberikan syok terapi bagi Malaysia. Sebagai bangsa besar, Indonesia memiliki banyak cara untuk bertindak dan bersikap atas wujud protes kepada Malaysia.

Pengamat Hubungan Luar Negeri Syamsul Hadi mengatakan, saat ini terdapat dua juta warga Indonesia yang mengadu nasib di Negeri Jiran. Jika dua juta warga tersebut dipulangkan dan diberikan lapangan kerja, secara lambat laun perekonomian Malaysia akan terkena dampaknya.

“Bagaimana pun, tenaga kerja Indonesia adalah terbaik jika dibandingkan dengan negara lain. Malaysia pun mengakui itu. Karenanya, mereka kembali membuka kran agar TKI masuk sekalipun sempat ada pemulangan besar-besaran pada 2002,” tandas Syamsul saat berbincang dengan okezone, Kamis (2/9/2010).

Soal biaya pemulangan dan membuka lapangan kerja, kata dia, tidak perlu dikhawatirkan selama pemerintah serius menyikapi hal ini. Sebab, lanjutnya, saat ini ada uang sebesar Rp650 triliun yang terparkir di perbankan Indonesia. Jumlah tersebut diyakini mampu menyelesaikan persoalan TKI.

“Pemerintah bisa membuka lahan peternakan yang selama ini kita selalu import dari Australia. Ini pasti bisa dilakukan asalkan serius,” ujar akademisi Universitas Indonesia ini.

Selain itu, kata Syamsul, pemerintah juga bisa menarik kantor duta besar Indonesia di Malaysia untuk beberapa waktu sebagai bentuk protes. “Karena menurut saya, kerjasama dengan Malaysia tidak terlalu menguntungkan bagi Indonesia,” tukasnya.

Hal tak jauh beda dikemukakan Anggota Komisi I DPR Effendi Choirie dalam satu kesempatan. Menurut dia, jumlah wisatawan Indonesia di Malaysia lebih banyak dibandingkan jumlah wisatawan Malaysia di Indonesia. Jika warga Indonesia tidak ada yang melancong ke Negeri Jiran, secara tidak langsung akan berdampak besar bagi roda perekonomian Malaysia.

“Malaysia itu orang kaya baru. Dia sombong karena merasa lebih hebat dari Indonesia. Karena itu, kita harus tegas menyikapi persoalan ini,” pungkas politisi Partai Kebangkitan Bangsa yang kerap disapa Gus Choi tersebut.

politik ketawa

Pada suatu hari Tutut, anaknya Soeharto, lewat di jalan tol di Jakarta.

Penjaga Tol: "3000 rupiah".

Tutut yang emangnya ngak punya uang seribuan mengeluarkan uang 50 ribu rupiah langsung saja menyodorkan tuch uang.

Penjaga Tol: "Ini Bu, kembaliannya. "

Bu Tutut: "Sudah...simpan saja buat keluarga anda."

Penjaga tol merasa senang karena menerima 47 ribu rupiah dan langsung berterima kasih kepada Tutut.

Setelah beberapa jam Tommy dateng melewati jalan tol tersebut. Karena mereka tuch anaknya Soeharto, ngak punya uang receh, Tommy mengeluarkan uang 20 ribuan.

Penjaga Tol: "Ini Pak, kembaliannya 17 ribu."

Tommy: "Sudahlah, simpan aja buat sekolah anak anda."

Penjaga langsung memasukan kembalian itu ke kantongnya dan berterima kasih banyak ke Tommy.

Setelah beberapa jam Soeharto dengan mobilnya lewat jalan tol.

Soeharto mengeluarkan uang 5000 rupiah dan disodorkan ke penjaga tol. Soeharto menunggu uang kembaliannya itu dan setelah menunggu 5 menit, ditanyanya kepada penjaga tol

Soeharto: "Lho, mana uang kembalian saya ?"

Penjaga Tol: "Ah Bapak, masa uang 2000 rupiah aja dibalikin. Tadi bu Tutut dan pak Tommy lewat kembaliannya 47 ribu dan 17 ribu aja diberikan ke saya, masa Bapak yang 2000 aja minta kembalian?? "

Soeharto: "Tunggu dulu mas !! Anda tau sapa Tutut dan Tommy??"

Penjaga Tol dengan cekatan menjawab: "Yach tahu Pak! Pertanyaan gampang tho, jelas Tutut dan Tommy tuh Anaknya Presiden."

Soeharto: "Pinter kamu, tahu mereka anak Presiden. Nah sedangkan saya kan cuma Anak Petani !!
Sekarang, mana kembalian saya??"

Penjaga Tol : lucu mo***t

Kamis, 02 September 2010

Pidato Presiden "Tampar" Petinggi TNI

JAKARTA, KOMPAS.com — Pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Markas Besar TNI di Cilangkap, Rabu (1/9/2010), terkait insiden penangkapan tiga petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan oleh Polisi Diraja Malaysia, dikatakan seperti menampar wajah petinggi TNI.
Pasalnya, pidato yang berlangsung sekitar 20 menit tersebut dinilai menunjukkan sikap Indonesia yang tak tegas. Pernyataan tak tegas Presiden, yang juga panglima tertinggi TNI, kontras dengan pemilihan tempat Markas TNI Cilangkap yang identik dengan ketegasan dan cerminan kekuatan.
"Pernyataan ini menampar petinggi-petinggi TNI sendiri bahwa lembeknya kepemimpinan politik di Indonesia menunjukkan lembeknya tentara Indonesia," kata pengamat militer dari Propatria Institute Hari Prihartono ketika dihubungi Kompas.com, Kamis (2/9/2010). Hari mengibaratkan pidato Presiden seperti pernyataan seorang kepala keluarga yang memilih berdamai setelah para anggota keluarganya disiksa dan dilukai orang lain.
"Dan hal ini disampaikannya di tengah keluarga besarnya. Inilah konyolnya pilihan sikap SBY semalam. Makanya, banyak perwira TNI yang semalam shocked," kata Hari.
Secara bergurau, Hari mengatakan, Presiden mungkin keliru menilai bahwa Mabes TNI itu Kementerian Luar Negeri. Pasalnya, apa yang disampaikan semalam juga tak sinkron dengan identitasnya sebagai Panglima Tertinggi TNI.
"Pemimpinnya mantan tentara, yang kemudian berbicaranya mendayu-dayu seperti melantunkan lagu, kau yang memulai/ kau yang mengakhiri," sambung Hari.
Seperti diwartakan, ketika berpidato kemarin, Presiden di antaranya menegaskan bahwa kedaulatan negara dan keutuhan wilayah adalah kepentingan nasional yang sangat vital. Ditekankan Presiden bahwa pemerintah sangat memahami kepentingan itu dan bekerja sungguh-sungguh untuk menjaga dan menegakkannya.
"Namun, tidak semua permasalahan yang muncul dalam hubungan dengan negara sahabat terkait dengan kedaulatan dan keutuhan wilayah," katanya.

malaysia takut indonesia

 Konflik Indonesia-Malaysia kian meruncing setelah masalah perbatasan kembali mencuat ke publik. Anehnya, Pemerintah Indonesia selalu berdalih sebagai saudara tua untuk menyelesaikan konflik dengan jalur damai yang semakin membuat politik luar negeri Indonesia tidak memiliki jati diri.

"Mereka tidak risau dengan masa lalu. Kejayaan Indonesia sudah tutup buku di mata mereka, tidak ada lagi istilah abang adik, saudara tua," ujar pengamat politik luar negeri UI, Zainuddin Djafar, Senin (30/8/2010), dalam diskusi CIDES, "Perkembangan Ekonomi dalam Dinamika Politik", di Hotel Ambhara, Jakarta.
Oleh karena itu, ia melanjutkan, sudah bukan saatnya lagi Indonesia merasa lebih hebat dari Malaysia karena mampu merebut kemerdekaan sendiri karena kini negeri jiran itu sudah berubah. Akan tetapi, ia juga menyatakan bahwa perubahan sikap Malaysia itu bukan berarti mereka hendak perang fisik dengan Indonesia.

"Malaysia itu jangankan perang, mereka itu takut sama Indonesia. Tapi, kalau kita tidak punya konsep, mereka sudah siap mengajukannya untuk masuk ke Indonesia," ungkap Zainudddin.
Salah satu yang dikhawatirkan adalah invasi melalui bidang ekonomi. Maka dari itu, tidak mengherankan apabila nilai-nilai superioritas di kalangan masyarakat Malaysia sudah merebak sejak awal 2000-an. Khusus untuk soal superioritas tersebut, hal ini ditunjang oleh besarnya arus perubahan dan perkembangan ide-ide sipil orang Melayu sejak 2005.