Featured Posts

Cash-Out Refinance For many, their homes are just not dwellings that protect them against rain, sun, and wind. But they are piggy banks, which can be used to raise some urgent money, even if the home still lays collateral...

Read more

Palm’s latest model, new handheld in a long time. Palm’s latest model, the TX, is its most ambitious new handheld in a long time. This isn’t because it’s full of cutting-edge features. It certainly is not. However, very few mid-range models have...

Read more

An image in a post Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in quam. Etiam...

Read more

Home Purchase Loan We all dream to own a home, at some point in our lives. In fact, this is a major driving force or one of the goals we have ahead while working day and night and saving a good share of the earnings every...

Read more

Senin, 06 September 2010

GEDUNG BARU DPR Arsitekturnya Tidak Cerminkan Indonesia

JAKARTA, KOMPAS.com — Arsitektur gedung baru DPR dinilai tidak mencerminkan budaya Indonesia. Padahal, gedung yang menelan biaya Rp 1,6 triliun itu adalah bangunan penting yang selayaknya bisa menjadilandmark "rumah rakyat" Indonesia.
"Rancangan gedung baru DPR itu bagus, modern, tapi sayang tidak mencerminkan budaya Indonesia," ungkap Ketua Ikatan Arsitek Indonesia Endi Subijono dalam perbincangan dengan Kompas.com, Minggu (6/9/2010).
Ia berpendapat, di luar perdebatan soal biaya yang menuai kontroversi, gedung parlemen seyogianya memiliki sebuah filosofi yang mencerminkan nilai lokalitas Indonesia. DPR sebagai salah satu fondasi sistem demokrasi Indonesia selayaknya memiliki gedung yang bisa menjadilandmark keindonesiaan. "Rancangan gedung itu terlalu netral, modern, tapi kehilangan lokalitasnya," ujarnya.
Menurut dia, kekayaan desain arsitektur lokal sangat mungkin diterapkan dalam rancang bangun sebuah gedung modern. Wisma Dharmala di Jalan Sudirman adalah satu contoh lokalitas yang terpresentasikan dalam wujud modern.
Gedung yang dirancang arsitek Amerika Paul Rudolph pada tahun 1986 menggunakan idiom atap sebagai ciri keindonesiaan yang mencolok. Bentuk atap yang memberi kesan rumah bertumpuk itu membuat Wisma Dharmala menjadi sangat dekoratif.
Jauh sebelum itu, arsitek Indonesia kenamaan, Suyudi, sudah menerapkan idiom atap pada rancangan gedung Kedutaan Besar Perancis di Jalan Thamrin yang dibangun tahun 1974 . Suyudi menggunakan pola atap sebagai cincin yang tidak terputus.
Endi yakin, jika saja rancangan gedung baru disayembarakan, pasti ada rancangan-rancangan arsitek Indonesia yang mencerminkan keindonesiaan. IAI pernah menggagas konsep sayembara pembangunan gedung baru DPR, tapi gagasan itu tampaknya diabaikan parlemen

0 komentar:

Posting Komentar